Izinkan Aku Memilihmu (Part 1.5)
Juni 16th, 2011 by rxamriIzinkan Aku Mengenalmu
Awalnya aku tak hendak menuliskan kelanjutan “Izinkan Aku Memilihmu (Part 1)”, tetapi entahlah, mood menulisku tiba-tiba muncul, ditemani 2 gelas cappuccino mocca vs vanilla aku mulai mengetuk keyboard untuk meluapkan rasa ini. Rasa ini tidak bisa dipendam lagi, campur aduknya semakin kompleks. Berbagai rasa melanda jiwa ini, mulai dari resah, gelisah, rihoen (rindu), panik, khawatir, cemburu, entah rasa apalagi yang akan menyusul. Hari-hariku kadang rimbun laksana berteduh dibawah pohon beringin, berayun dibawahnya. Dihari lain menjadi gerah seperti dehidrasi ditengah gurun dengan suhu diatas 50 derajat Fahrenheit.
Mempertahankan apa yang diraih lebih sulit ketimbang saat mendapatkannya. Begitu juga cinta, meraihnya begitu sulit, penuh perjuangan dan doa untuk mendapatkan kekasih idaman kita. Berpeluh keringat tak terasa saat hendak menjumpainya, dibakar ultraviolet tak ada artinya. Angin badai menusuk dada tak dihiraukan asalkan bisa bertemu muka tepat waktu dengannya. Lain waktu mengarungi hujan sejauh 47 km tanpa mantel hanya untuk melihat wajahnya. Pernah sekali waktu dimalam penuh debu aku menembus heningnya malam hanya untuk mengetahui keadaannya. Benar-benar perjuangan berat. Namun itu semua belum ada apa-apanya dibanding mempertahankan apa yang telah kita dapatkan, jauh lebih sulit menjaganya.
Aku hanya punya 2 rencana, plan A sebagai rencana prioritas serta plan B sebagai misi penyelamatan, tidak ada plan-plan lainnya. Setelah ia mau dipilih olehku, kami mulai saling ta’aruf (kenal-mengenal). Kalau pada masa pertemanan aku hanya tau sedikit tentang dia, kini aku harus mengenal juga sekelilingnya. Mengenal teman-temannya tidak begitu sulit, bagian tersulit adalah mengenal keluarganya. Mengenal keluarganya sangat perlu untuk melancarkan hubungan kami sampai ke jenjang pernikahan. Aku pernah mengiriminya pesan pendek, menanyakan apakah ia bersedia menikah denganku. Ia membalasnya “insya Allah”, tetapi kalau serius silahkan kerumah katanya, “ngomong langsung dengan ortu adk” pungkasnya. Sinyal positif yang harus ditindaklanjuti.
Sinyal positif ini adalah tantangan terberat bagiku, mengingat diriku tidak punya apa-apa, belum punya modal untuk menghadap keluarganya. Jangankan untuk mahar yang puluhan gram itu, 1 mayampun sebagai tanda aku belum punya. Aku tidak ingin hubungan kami menjadi pacaran bebas, aku ingin segalanya berjalan sesuai syariat. Dulu pernah menggombal tentang pernikahan dengan mantan pacar, tetapi yang terjadi anti klimaks, ketika dia sudah siap aku malah belum mulai melangkah. Resikonya ya diambil orang. Masalah jodoh menurutku bukan hanya masalah menunggu tetapi juga mencari dan membuka diri. Dikarenakan masalah modal yang masih hanya berupa dengkul ini aku belum berani menemui keluarganya. Aku telah mengenal beberapa anggota keluarganya baik secara langsung maupun pertelepon, respon mereka cukup baik. Yang paling kuingat adalah saat dulu kami makan siang, kami makan siang di ayam penyet waktu itu. Handphonenya berdering, dan ia menjawab salam dari seberang beberapa jurus kemudian handphonenya disodorkan padaku, “dari mamak, pengen ngomong sama abg” katanya. Sesaat kutempelkan perangkat komunikasi itu ditelingaku, kujawab salam dan kusebutkan namaku. “ijal ya? Dimana? Sama siapa aja? Tolong bilang sama si adk jam 4 sudah bisa pulang karena hujan!” iya, iya, dilhokseumawe, iya, insya Allah saya antar sampai ke angkot sebelum jam 4. Alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Deg-degan, barusan ngomong sama calon metua, batinku. Gugup, baru pertama kali.
Hari-hari dilalui dengan normal seperti biasa, tetapi semenjak pertemuan kami saat itu, ada yang istimewa disetiap hari-hariku. Setiap akan masuk waktu shalat wajib, ponselku selalu berdering tanda pesan masuk yang mengingatkan waktu shalat, masih ada sampai sekarang. Yang paling menggembirakan diwaktu shubuh aku bisa bangun tepat waktu dan tidak pernah lagi kesiangan, apalagi kalau bukan karena “alarm otomatis” yang tetap berbunyi meski aku lupa menyetelnya, ya, dia tidak pernah bosan mengirim pesan dan me-misscall sampai aku bangun. Pekerjaan yang berat dikantor, tetapi saat 5 waktu aku bisa selalu tersenyum saat membaca pesan pendeknya. Malam jum’at juga tidak seperti biasanya, aku jarang membaca Al-Quran sekarang, sibuk mengejar dunia yang tak pernah ada habisnya. Tetapi ba`da maghrib sebuah pesan mampir di peti masuk “bg, klu bisa baca yasin mlm ini, kan mlm jumat”. Hmm, termotivasi dengan sms itu segera aku buka Digital Quran dan kubaca yasin sampai tak terasa selesai kubaca. Kerongkongan menjadi kering, mungkin karena terlalu lama lidah ini tidak membaca Al-Huda. Biasanya baca yasin kalau ada orang meninggal. Kusadari kualitas tartilku semakin memburuk, dulunya tak bagus tetapi lumayan. Lama juga tidak memegang mushaf apalagi membacanya. Wanita ini mengingatkanku akan kewajiban serta amal ibadah yang harus selalu di perbaiki kualitas dan kuantitasnya. Beberapa minggu ini seorang teman mengingatkanku bahwa syakban dan ramadhan semakin dekat, hanya 2 bulan kurang (sekarang rajab). Pesan ini aku forward ke dia. Beberapa hari setelahnya saat aku menanyakan apakah sudah makan malam, ia menjawab “sdh bg, buka puasa td sama mamak”. Duuh, betapa malunya aku, malu sama janggutku yang ikut sunnah nabi, ngikut sunnah kok janggut saja tetapi shaum (puasa) senin kamisnya tidak. Pernah aku tanyakan kenapa ia tidak mengajak aku puasa, dia bilang aku sibuk jadi butuh energi. Malu aku, lupa pada tugasku sebagai hamba, padahal tahun kemaren puasaku tinggal 1 hari, tapi belum kuganti. Wanita yang menginspirasi.
Semakin hari hubungan kami semakin dekat, meski terpisah oleh jarak puluhan kilometer aku tetap berusaha menemuinya meski sebulan hanya 1 atau 2 kali. Bagaimanapun juga setiap pertemuan kami dihiasi diskusi yang sering kumenangkan, beda dengan diskusi via sms yang hampir tak pernah kumenangkan. Bertemu dalam bilangan jam cukup untuk menata kembali hati ini akan rasa rindu yang mendera. Pertemuan yang sering tidak direncanakan, terjadi tiba-tiba tetapi terasa indah. Bertemu dikeramaian sambil menikmati hidangan ayam penyet adalah menu favorit kami, sambil mencuri pandang sesekali menelusuri wajah manisnya, ia lebih sering menunduk, pemalu. Ia mampu mengontrol setiap pembicaraan yang kami lakukan, ia tak segan menyetop bila aku telah keluar jalur. Umurnya lebih muda 4 tahun dariku, tetapi ia lebih dewasa dalam memahami cinta dan jodoh. Ya, kedewasaan tidak dapat diukur dari umur tetapi dari ucapan dan tindakan.
Tepat dihari miladnya aku menghadiahkan sebuah buku bertema pernikahan, aku harap ia mengerti akan maksudku. Ia pintar, ia bisa memahami isi hatiku dengan mudah setelah membaca buku itu, karena aku menulis beberapa kalimat tepat di halaman yang menunjukkan tanggal lahirnya, tahun aku akan mengkhitbahnya, dan tahun aku akan menikahinya (insya Allah), menikahinya, menikahi jiwa dan raganya hingga menjadi kekasih halalku.
Hubungan kami juga tak selalu indah, sebagai kekasih yang belum halal, hubungan 2 hati ini tidak selalu berbumbu manis. Jarak dan komunikasi serta kesibukan masing-masing tidak jarang membuat hubungan kami naik-turun, rapat-renggang. Masalah komunikasi dan kesalahpahaman selalu selesai dengan baik, lucunya kadang kami berebut mengaku salah, padahal sudah jelas aku yang salah atau sebaliknya. Sifat egois dan cemburuan atau ingin diperhatikan pelan-pelan sudah bisa kukendalikan, ia begitu sabar. Pernah dalam sebuah perjalanan aku mengirimi pesan menanyakan kabarnya dan beberapa pertanyaan standar lainnya, ia hanya menjawab “baik..” hanya 4 huruf saja, aku protes, merasa tidak diperhatikan. Aku matikan ponselku kemudian. Aku geram dengan balasan yang lama dan terlalu singkat itu. Begitu paginya aku hidupkan ponsel langsung masuk pesan “bg, maafin adk kalau membalas pesan abg tll pendek, adk tw abg sdg bw kereta, klu adk bls panjang bs lama n ganggu konsentrasi abg nanti. Kdg sms adk pun gk smpt abg bls tp adk gk prnah protes krn adk tw abg sibuk, pdhl abg ckp bls 3 huruf saja ..iya.. atau ..tdk.. adk mlh lbhin 1 huruf ..baik.. adk mnt maaf klu buat abg tersinggung, maafin adk”. Kontan saja bulu kudukku berdiri dan mataku hampir sembab ketika membaca pesan kedua “semalam adk gk bisa tdr krn nunggu blsan sms abg, adk ngerasa bersalah, adk tkt apalg abg sdg bw kreta, maafin adk bg”. Langsung kupencet nomor telponnya sampai lupa menekan #1. Aku menyesali dan minta maaf tlh menyakiti hatinya. Aku tidak sadar dengan keegoisanku, aku hampir kehilangan wanita yang menjadi idaman para lelaki. Aku egois dan sombong akan diriku yang tidak seberapa, mampukah aku membalas kesetiaannya untuk tidak menduakannya, aku ingin berubah, menjadi lebih baik, supaya aku pantas untuknya. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik, begitu juga sebaliknya. Aku harus menjadi lebih baik lagi jika ingin cintaku padanya diridhai Rabb. Menjauhkan potensi-potensi maksiat yang menjadi misi setan dalam diriku. Aku ingin mendoakannya setiap selesai shalat fardhuku, tetapi aku masih malu, malu pada Rabbku karena amalku yang tidak seberapa itu, aku baru berani mendoakannya disela-sela rukun 2 khutbah. “Ya Rabb, bila ia jodohku, maka mudahkanlah untuk kami berdua, bila ia bukan jodohku, berikanlah yang terbaik untuknya dan untukku, mudahkanlah segala urusannya. Amien ya rabbal alamien”.
Cinta, bila ia dekat kadang kita acuh, bila ia menjauh kita jadi kalang kabut dan rindu ½ mati dibuatnya. Kadang kita baru mengerti arti hadirnya saat kita kehilangannya. Semoga perjalanannya lancar dan tidak kurang suatu apapun. Pada hakikatnya, ia tidak pernah jauh, ia selalu dekat disini (sambil memegang bagian dadaku), dihati. Terimakasih gadis berkerudung merahku, dik! Baik-baik sayang. Semoga suatu saat dalam Part 2 tulisanku engkau telah menjadi kekasih halalku. Doaku untukmu sayang. Malam ini, aku mulai mengenalmu!
You and I, will be together till the end of time
I promise, I will never let you go